Campus Cloud

Anda sudah lihat perkembangan anak anda sedemikian pesat, hendaknya kita siapkan pendidikan untuk anak kita. Nah saya ajak anda menyelami dunia cloud dalam kampus, seolah anda masuk dalam Time Machine dan melihat prespektif diri anda seperti anak anda yang ada didalam kehidupan masa depan.

Anda tidak perlu datang repot-repot datang in-house ke kampus, repot-repot cari indekos ke lokasi dekat kampus, anda cukup depan laptop anda / PC anda dan anda interaktif hadir didalam kampus.

Disini juga melatih kedisiplinan dan kemandirian kita, tanpa harus diperintah hadir ke kampus dan lain-lain. Sekaligus anda bisa belajar Entrepreneurship dari yang apa yang kita pelajari.

Menjadikan Interconnecting masing-masing kampus menjadi satu yakni Campus Cloud, bisa saja interconnecting dengan kampus terkemuka didunia apakah itu harvard, atau kampus terkemuka lainnya.

Program Materi Kampus yang paling mungkin adalah bidang IT as Programmer, Networker ataupun Infrastructure.
Paket Kelas dibuat harga semurah mungkin sehingga bisa mendapatkan faktor kali yang lebih banyak … silahkan cari di google faktor kali nya Om Tung Desem waringin.

Persoalan datacenter yang dibangun dimasing-masing kampus, kita bantu buat campaign saja ke perusahaan-perusahaan besar untuk sosial charity disamping itu mereka pastinya akan mendapat profit dengan mengandeng perusahaan lainnya
untuk bisa memasang dan promosikan produknya.

Oke mari kita mulai memasuki Campus Cloud dimulai dengan absensi , absensi itu mudah dilakukan yaitu validasi login ke dalam aplikasi campus cloud. Pada saat login webcam langsung ON dan Verify Wajah sesuai dengan login user id mahasiswa tersebut.

Setelah aplikasi itu terbuka maka akan tampil dashboard perkuliahan anda, adapun isinya dashboard :

• Jadwal Perkualiahan

• Kelas Tatap Muka Interaktif / Live Streaming dengan Dosen

• Kelas Interaktif dimana kita bisa kolaborasi dengan mahasiswa lain dalam 1 tampilan.

• Google Source Info, Kita bisa dapatkan hal-hal dan ilmu perkuliahan yang disajikan interaktif dalam google hangouts

• Exam Interactive bisa dikerjakan dalam interface android, tapi login verifikasi dari dashboard
Aplikasi ini bisa diakses 7×24 Jam 365 Hari dan diakses diamanapun dan kapanpun selama terjangkau akses internet.

Jika kita melihat potensi bisnis edukasi tidak akan ada habisnya, nah bagian dari tugas kita bagaimana kita memasuki dalam dunia kampus, mungkin overview yang saya sampaikan sudah dalam entreprise level karena masing-masing kampus memiliki datacenter sendiri dan masing-masing datacenter sudah masuk standarisasi minimal Tier 3.

Ukuran Prestise kampus juga bisa menjadi alasan anda menawarkan Campus Cloud, kita bangun Private Cloud diddalamnya dan bisa terhubung di kampus yang lainnya.

Disaster Recovery bisa saja antar kampus dibuat hal itu contoh Kampus Universitas Indonesia (Depok), Disaster Recovery Sitenya di Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), masing-masing kampus memiliki datacenter sendiri sehingga mereka bisa saling terhubung tentunya harus didefine diawal mengenai kepentingan mereka selama saling memberi kemanfaatan yang baik .

Untuk menekan biaya investasi yang cukup besar, maka dibuat Opex saja dari masing-masing intitusi Kampus yang akan menerapkan Cloud Campus, karena sebenarnya Cloud Campus adalah bentuk ekspansi secara massive suatu kampus.

Dengan Cloud Campus yang diharapkan adalah terciptanya Pendidikan Nasional yang lebih baik lagi dan sekaligus menciptakan sinkronisasi dari semua kampus yang ada diseluruh Indonesia yang tujuannya mencerdaskan anak-anak Indonesia.

Anak anda tidak perlu jauh-jauh ke USA, Australia, Jerman, Mesir, Arab Saudi dan Inggris cukup depan laptop / ruangan khusus anak anda setara dengan kuliah seperti yang ada pada umumnya.

Motto : Campus Cloud “.. Ketika Jarak sudah tidak ada lagi dan Ketika Perbedaan sudah tidak ada lagi lalu perhatikan apa yang terjadi ..”

Salam
Purwandi
Blog ini ditulis mulai jam 11:52 selesai Jam 14:15 Tanggal 15 Feb 2014

Repository Debian Squeeze

deb http://ftp.au.debian.org/debian stable main contrib non-free
deb-src http://ftp.au.debian.org/debian stable main contrib non-free

deb http://ftp.debian.org/debian/ squeeze-updates main contrib non-free
deb-src http://ftp.debian.org/debian/ squeeze-updates main contrib non-free

deb http://security.debian.org/ squeeze/updates main contrib non-free
deb-src http://security.debian.org/ squeeze/updates main contrib non-free

Militer Khalifah Utsmaniyah Di Pasukan Diponegoro

Struktur Militer Utsmani dalam Laskar Diponegoro

Penjajahan Belanda di Nusantara selama 350 tahun tidaklah berlangsung dengan mulus tanpa perlawanan. Bangsa Muslim yang memiliki kehormatan dan harga diri ini tak henti-hentinya melawan. Jihad mempertahankan negeri dari serangan penjajah kafir adalah jalan hidup mereka semenjak dahulu kala. Tapi siapa sangka, ternyata pengaruh khilafah Utsmaniyah sangat besar di dalamnya.

Salah satu perlawanan terbesar yang sangat merepotkan Belanda adalah Perang Jawa (Java Oorlog) yang berlangsung dalam kurun 1825-1830. Perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini berlangsung di sebagian Pulau Jawa. Medannya membentang dari Yogyakarta di pantai selatan hingga perbatasan Banyumas di barat dan Magelang di utara. Meski wilayah ini relatif kecil dalam ukuran zaman sekarang, kawasan ini adalah pusat kerajaan Jawa yang mulai digerogoti oleh kekuasaan Belanda.

Perlawanan ini berkobar lama dan berdarah, ratusan ribu korban jatuh, terutama dari pihak Muslim. Belanda sendiri kehilangan ribuan prajurit dan kasnya hampir kosong untuk membiayai perang. Belanda menghadapi musuh berat yang menentangnya bukan semata sebagai kekuatan penjajah yang merampas hak, namun sebagai kekuatan kafir yang membahayakan akidah Islam.

Perlawanan Pangeran Diponegoro disusun dengan struktur militer Turki. Nama berbagai kesatuannya merupakan adaptasi dari nama kesatuan militer Khilafah Utsmani. Panglima tertingginya adalah Sentot Ali Basah, adaptasi dari gelar Ali Pasha bagi jenderal militer Turki. Sementara unit-unitnya antara lain bernama Turkiyo, Bulkiyo dan Burjomuah menunjukkan pengaruh Turki. Bulkiyo adalah adaptasi lidah jawa bagi Bölük, struktur pasukan Turki dengan kekuatan setara resimen. Sementara jabatan komandannya adalah Bolukbashi.

Susunan militer khas Turki ini membedakan pasukan Diponegoro dengan pasukan Mangkunegaran Surakarta yang menggunakan struktur legiun (mengadopsi sistem Perancis). Juga berbeda dengan kesultanan Yogyakarta yang menggunakan struktur bregodo (brigade, mengadopsi sistem Belanda).

Kiriman Senjata

Tak hanya struktur militer ala Turki, Belanda bahkan mencurigai bahwa ada kiriman senjata dari Turki melalui pantai selatan Jawa. Karenanya pantai yang menghadap Samudera Hindia ini dijaga ketat. Deretan benteng kokoh dibangun Belanda menghadap lautan selatan. Sisanya antara lain masih bisa ditemukan di Cilacap, Jawa Tengah, dan Pangandaran, Jawa Barat. Penduduk lokal kini menyebutnya benteng pendhem (terpendam) karena sebagian strukturnya terpendam di bawah tanah.

Tak cukup dengan benteng berbentuk tembok fisik, benteng mitos agaknya juga dibangun oleh Belanda. Termasuk dengan menanamkan mitos tentang keramatnya pantai selatan. Belakangan muncullah mitos tentang Ratu Kidul yang hingga kini masih disembah dengan berbagai ritual oleh keraton maupun penduduk pesisir selatan.

Mitos tentang pantai selatan itu membuat penduduk lokal selalu dibayang-bayangi ketakutan pada kemurkaan Ratu Kidul. Mereka takut dan enggan mengeksplorasi potensinya. Termasuk potensinya sebagai gerbang hubungan internasional dengan dunia luar. Inilah yang diharapkan Belanda, perjuangan Muslim di Nusantara terisolir dari dunia Islam.

Dugaan penciptaan mitos oleh Belanda ini tidak berlebihan. Di antara program yang intens dilakukan oleh Belanda melalui sisi budaya adalah nativikasi. Upaya mengembalikan penduduk Muslim di Nusantara pada kepercayaan dan agama “asli” atau lokal. Program inilah yang mendorong Belanda tak segan mengeluarkan dana besar untuk mengkaji naskah-naskah kuno yang kini kebanyakan tersimpan di Leiden.

Hasil riset itu kemudian diwujudkan dalam tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang kerap menjadi pegangan kelompok Kejawen seperti Darmogandhul dan Gathuloco. Isinya mengagungkan kehidupan Jawa pra-Islam, melecehkan syariat Islam dan mempromosikan teologi Kristen secara tersamar. Meski dianggap kitab kuno, penelitian sejarawan Muslim seperti Susiyanto dari Pusat Studi Peradaban Islam menunjukkan bahwa kitab-kitab itu dikarang pada era Belanda dan memuat ajaran teologi Kristen.

Sisa Laskar Diponegoro

Setelah Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda, pesisir selatan masih menjadi basis pasukan Diponegoro. Sisa-sisa laskarnya menyebar di pesisir selatan Kebumen dan Purworejo. Mereka biasa menyerang kepentingan Belanda di sekitar kota.

Oleh Belanda gerakan sisa laskar Diponegoro itu disebut sebagai para kecu (perampok yang bergerak siang hari) dan rampok (biasanya bergerak malam hari) yang terkenal di kawasan itu. Bisa jadi perkecuan dan perampokan itu dilandasi semangat terus berjihad melawan Belanda serta merampas ghanimah dan fa’i dari musuhnya. Wallahu a’lam

Oleh Ustadz Fahmi Suwaidi
http://www.eramuslim.com

Senangkan Orang Tua Kita Semasa Hidup

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian dikampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di KualaLumpur.

“Nggak usah. lain kali saja.!”jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. “Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti.

Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah,” balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. “Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah.” katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

“Nggak usah saja yah.” bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk kekamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. “Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!” balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, “Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!” Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. “Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah,” katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. “Bus berangkat pk.14.00,” kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan dikantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. “Nggak mungkin belum tiba,” jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. “Ayah sudah tiada.” kata sepupu saya disana. “Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi.” Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, “Ada apa, bang?” Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru
bisa berkata, “Ayah sudah tiada!!”

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi. Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Jangan pernah sekalipun terucap kata ah….. pada mereka.

Sumber : http://patungemas.blogspot.com/2011/07/senangkan-orang-tua-kita-semasa-hidup.html

21 Life Lessons from Steve Jobs

Steve Jobs will be remembered as a digital visionary — the man who brought poetry to the microchip.

But before he was a legend, he was a person.

We can’t all be Steve Jobs, but we can all learn from his extraordinary life.

#1 Skate to Where the Puck is Going to Be
In 2007, Steve Jobs said, “There’s an old Wayne Gretzky quote that I love. ‘I skate to where the puck is going to be, not where it has been.’ And we’ve always tried to do that at Apple. Since the very, very beginning. And we always will.”

Steve’s ability to anticipate future trends helped Apple dominate now-burgeoning markets like digital music sales (through the iPod and iTunes Store).

#2 Accentuate the Positive
Steve started life out on the wrong foot. He was given up for adoption at birth because his mother had wanted a daughter.

Tough break? Young Jobs didn’t think so: he was thankful for his loving adoptive parents — who happened to live in Palo Alto, California (which would eventually become Silicon Valley).

#3 Learn from Others
In high school, Jobs attended lectures at a small computer technology company called Hewlett-Packard. Before turning 21, Steve had worked for both HP and Atari. He saw what these companies were doing and learned what he wanted to do differently with Apple.

#4 Start Early
Because Steve was still a sponge-brained teenager when he started working with computers, he learned quickly.
It also helps that he started Apple in his early 20’s: when he was still full of energy, fresh ideas, and not yet restrained by a family or career.

#5 College is Important…
At its best, higher education challenges us to make connections and solve problems.
Jobs credits a college calligraphy course for part of the Macintosh’s development:
“If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts.”

#6 …But it’s Not Necessary
Reed University was expensive and Jobs didn’t want to drain his parents’ savings. If Jobs hadn’t dropped out, he would have been a junior in 1975. He co-founded Apple Computer that year instead.

#7 Travel the World
The year before he founded Apple, Jobs journeyed to India. Travel has a way of broadening a person’s perspective and expanding their sense of what’s possible – good traits in an entrepreneur.

#8 Surround Yourself with Good People
Steve Jobs wasn’t a great computer engineer. Apple would have had no chance if Jobs was the only one building the computers. That’s why he recruited Steve Wozniak.

Through the years, Jobs’ companies have blossomed thanks to the brilliant people he’s brought on board – like Apple CEO Tim Cook and Pixar CCO (Chief Creative Officer) John Lasseter.

#9 Expect Greatness
People tend to rise to expectations.

#10 Fake it Before You Make it
In Apple’s early days, Steve recognized that Palo Alto, California was the epicenter of innovative computer technology. Steve wanted his company to be associated with this place – but Apple was still headquartered out of a garage in nearby Los Altos.

Jobs’ solution was to set up a PO Box in Palo Alto and hire a voice answering service. A potential client would get the impression that Apple was a big company in the heart of Silicon Valley – even though the truth was that it was still just two sweaty guys in a garage across town.

#11 Obstacles are meant to be Overcome
Jobs and Wozniak ran out of money while developing the first Apple computer. Instead of giving in, Jobs sold his van and Wozniak sold his graphing calculator. When there’s a will, there’s a way.

#12 Don’t Value Money
As CEO of Apple, Jobs earned $1 a year. Jobs wasn’t incentivized by his salary, but by his own unrelenting pursuit of excellence. (Then again, his expansive stock holdings may have been some incentive.)

#13 Value People
Jobs hired passionate people and cultivated exceptional company cultures at both Apple and Pixar – and their work speaks for itself.

#14 Take Risks
Jobs was willing to cannibalize his company’s products in the name of progress. Many CEOs would have been hesitant to develop the iPhone, knowing full well that it would help to make the iPod obsolete – but Jobs did it anyway (and took a big bite out of the lucrative mobile market).

Don’t be afraid to take risks. Especially smart ones.

#15 Create a Personal Brand
Steve Jobs was one of the first people to recognize the growing importance of personal brands in the Internet age. His black turtleneck is as instantly recognizable as the Apple logo.

#16 Have a Higher Purpose
Buddha said, “We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world.”

Jobs has turned his vision into reality since he began practicing Buddhism in the 1970’s.

#17 Find the Right Partner
There is no more important decision in your life than the person you decide to share it with. Choose wisely (as Steve did), and you have a partner who will help see you through daily challenges.

#18 Fail Forward
Everybody fails. It’s how you respond to those failures that makes all the difference. In 1984, Steve Jobs was fired from Apple.

At Stanford’s 2005 commencement address, he had this to say about it:

“I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”

#19 Learn How to Take a Brick to the Head
More inspiring words from the Stanford speech:

“Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work.”

#20 Remember You’ll be Dead Soon
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important.”

Our time on this earth is short. Let’s make it count.

#21 Put a Dent in the Universe
Jobs once said, “We’re here to put a dent in the universe. Otherwise, why else even be here?”

Having a higher purpose doesn’t just help you find success. It redefines the meaning of the word.

Ready to Redefine Success?

I’ll let Jobs have the last word:

“The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.”

How has the life of Steve Jobs inspired you?

Written by Nick Scheidies
Nick is an American writer, musician, and entrepreneur.

Passport

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa
orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya
sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah
naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah
pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah
pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR
dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi
tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin
memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet,
terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu
kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan,
pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia,
Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu
dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang
bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi
kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya
uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir
pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga
para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah
melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas
kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut
sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.
Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.
Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan,
teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para
pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok
backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah,
menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang
bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka
sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis,
yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang
yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh,
bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah
rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima
Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang
dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko,
menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut
kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan
menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain
kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat
teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi
eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
*

The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel
ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari
Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk
dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin
masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan
miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak
pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket
pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi
para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima
ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis
melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan
jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu
pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah
kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan
infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada
di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan
memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas
Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat
minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus
Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung
melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau
diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka
perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia
ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf
tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti
menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah
punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi,
jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket,
menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan
kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya
sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun
kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka
anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu
tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang
mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang
meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki
daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.
Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita,
gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki
pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport
pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di
Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe
yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya
mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus
Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Disunting dari Jawapos 8 Agustus 2011

*Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia *

*RAIHLAH ILMU, DAN UNTUK MERAIH ILMU, BELAJARLAH UNTUK TENANG, DAN SABAR. *

*(KHALIFAH UMAR R.A.)*

My Outbound at Toyo Gesang , Ciapus – Bogor 15 ~ 17 April 2011

Berangkat dari kantor dan dapat bis yang 54 seat ada 2 bis, perjalanan GPL ( Gak Pake Lama) Accoss Sentul aje…

Walaupun hanya beberapa hari saja tapi lumayan lah buat hilangkan penat dan kejenuhan selama bekerja, ya gak jauh2 amat sich lokasinya namun cukup representative lah buat refereshing,

View Dari Villa Teratas…

Lumayan buat hirup udara segar dan gratis hehehe….

nah yang paling seru flying foxnya wew…..sangat menantang….

Don’t try at home …

ya berbekal gaya2 aneh memang jadi super duper gila gebleg dan dipadu rasa kecuekan yang luar biasa…

apalagi yang ini….gaya super cuek (sang leader tendean dasyat)…

Leader Tendean Dahsyat..with nice smile

ya emang dah rame ujung2nya maen basah2an sama team tendean dahsyat hehehehehe …..

abis maen aer + maen bola gak jelas…xixixi

gak menang sich kita ditiap event yang penting bergumul dalam kebersamaan….(kompak maksudnye : Red)

nah yang ini gelang power balance (bener2 harus balance) xixixi [Tendean Dahsyat Team]

wah seru maen gelang power balance yang bener2 balance (ada oknum yang bobotnya 1 kwintal minus 15,1Kg) lumayan butuh kesabaran buat angkat beliau ini….untung gak salah urat…(pake urat disalahin lagi…dasar koplak) wkwkwkwk.. tapi tetep

TEndeAn Dahsyat Yes Yes Yes……………..crazy yel-yel wkwkwkwkwk

apalagi permainan gelas plastik what the hell………cukup rame komando yang brame2 jadi kagak jelas, simak putu dibawah ini :

yang ini nich game gelas plastik what the hell…pegel juga susunnya (Tendean Dahsyat Team)

Terkadang ketidakjelasan memberikan momen yang sepesial xixixi liat dibawah ini :

jurus menangkap bola dingin2 empuk (dah belajar dari alam sering pegang empuk2 …(sensored)

Sang Leaderpun kolaborasi dengan team lain walaupun dengan wajah agak mengandung content mupeng …..xixixixixi check it out below…..

Tendean Dahsyat Colaborate with others

Alhamdulillah walaupun capek kami tetep semangad dan membekas dalam noda bersejarah (xixixixi), sederhanda dalam penyampaian intinya kita mesti solid dalam kerjasama team dan mandiri dan tangguh dalam personal..sehingga memiliki daya survival yang dahsyat dalam kehidupan yang dahsyat ini….

hehehe yel-yel kami adalah : We Are…We Are Dahsyat Dahsyat  …. We Are We Are Dahsyat….(Queen Mode On We will rock you), Yes Yes Yes …………….Tendean Dahsyat Yes yang laen……….huh (with unlike thumb to others) …..

tetep menjaga alam sekitar….

Dan saya selaku Leader Tendean Dahsyat say thanks to Alloh dan Team aku gak bisa aku sebut2 satu…hehehe

======================  00000 ====================== 000 ==================================